"Hati-hati dengan senjata mereka!" Teriak salah satu pimpinan regu suku Monrest yang kaget melihat kemampuan senjata yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.
Melihat pakaian dan senjata yang mereka gunakan, salah satu pimpinan regu mengingatkan prajuritnya, “hati-hati,mereka bukan penduduk pulau ini!”
"Lepaskan jaring." Perintah salah satu pimpinan regu suku Monrest lainnya, yang diikuti oleh anggota mereka untuk melepaskan jebakan yang sudah mereka persiapkan.
Namun, Kane yang sudah waspada, segera menembak jaring yang dilemparkan oleh mereka hingga hancur terbakar.
"Apa yang terjadi? Kenapa jebakan kita hancur?" kata salah satu suku Monrest yang kebingungan.
"Serang terus, jangan berhenti!" Teriak salah satu suku Monrest. Di peperangan, mereka tidak bisa bergerak lambat. Ruvan akan memberikan sanksi bagi anggota mereka yang terlihat lemah dan lambat. Mereka segera menyerang kembali dengan panah dan tombak.
"Siapa mereka?!" teriak seorang prajurit Kane, panik melihat gerombolan pasukan musuh yang terus maju dari sisi kiri dan kanan.
"Lala dan kakeknya melarikan diri." Teriak Lyra.
"Apa kau bilang?" Bentak Kane. "Mereka pikir bisa kabur dariku? Selesaikan pertempuran ini dengan cepat. Kita akan mengejar mereka segera."
Hujan panah terus menghantam barisan Kane dari segala arah. Para prajurit Kane berlindung di balik pepohonan besar, dengan pelindung elektronik yang memantulkan beberapa panah. Suara tembakan laser menggelegar, menciptakan ledakan kecil setiap kali mengenai pohon atau tanah. Pasukan Ruvan menyerang dari arah kiri dan kanan, mencoba mengepung mereka.
Kane tetap bersikap tenang di tengah kekacauan. Matanya tajam, mengawasi setiap gerakan musuh. "Fokus pada regu kiri!" teriaknya kepada timnya. "Hancurkan mereka terlebih dahulu, lalu kita pindah ke kanan!"
Pasukan Kane segera mengambil posisi saling melindungi dan menyerang balik pasukan musuh. Setiap tembakan dari mereka, mampu membunuh beberapa orang sekaligus.
"Serang bersamaan!" Teriak salah satu pimpinan regu memberikan perintah.
Pasukan Ruvan yang mendengar perintah, segera maju bersama-sama. Mereka tidak segan-segan menggunakan jasad rekan mereka yang terbunuh sebagai tameng untuk menghindari tembakan. Pasukan Monrest menyadari, meski hebat dan berbahaya, senjata lawan tidak bisa digunakan secara terus menerus, ada jeda setelah beberapa kali menembak.
Sementara itu, Ruvan yang mendengar pertarungan sudah dimulai, segera berbalik arah dengan cepat dan ikut menyerbu bersama pasukannya yang lain. Ruvan berdiri di atas Sobor, mutasi raksasa yang menjadi andalannya. Ia memimpin serangan dari tengah bersama salah satu pimpinan regu, sementara dua pimpinan regu lainnya memimpin sayap kiri dan kanan.
Raungan keras memecah udara. Sobor, makhluk mutasi terbesar yang dikendalikan Ruvan, tiba-tiba melompat ke tengah-tengah pasukan Kane. Dengan cakar tajamnya, Sobor menyerang tanpa henti, mematahkan pohon dan melukai beberapa prajurit Kane. Dua prajurit Kane langsung terlempar ke udara akibat sapuan cakarnya, tubuh mereka menghantam tanah dengan suara keras.
"Komandan, pelindung kita tidak mampu menahan serangan makhluk itu." Kata salah satu pasukan Kane.
"Bertahanlah! Segera bunuh pimpinan mereka untuk mengakhiri ini." Tegas Kane sambil menembaki makhluk-makhluk yang mulai menyerang.
Makhluk-makhluk mutasi lainnya ikut menyerang dengan ganas. Salah satu makhluk melompat dan menyerang pasukan Kane dengan kecepatan yang mengerikan. Pasukan Kane berusaha menembak namun target mereka terlalu cepat sehingga mereka harus berhati-hati agar tembakan tidak mengenai rekan mereka sendiri.
Salah satu makhluk mutasi lainnya berhasil menjatuhkan Seraphina ke tanah, mencabik armor tubuhnya dengan gigi tajam. "Lepaskan aku!" Teriak Seraphina panik, berusaha melepaskan diri dan mengambil pisau di sakunya, namun gerakan makhluk itu yang menggigit dan menariknya membuat Seraphina kesulitan. Armornya melindungi tubuhnya dari gigitan, namun tidak akan bertahan lama.
Kane yang berada di dekat Seraphina segera mengeluarkan pisaunya dan menusuk makhluk yang menyerang Seraphina hingga gigitannya terlepas. Seraphina segera bangkit dan mengambil senjatanya, bersiap bertarung lagi.
"Terimakasih komandan." Kata Seraphina sambil menembak salah satu makhluk mutasi.
"Makhluk besar di tengah! Tembak sekarang!" perintah Kane lanjutnya kepada seluruh pasukan, sambil mengarahkan senjata lasernya.
Tembakan mereka berhasil menghantam sisi Sobor, menciptakan ledakan kecil di sisik tebalnya. Namun, makhluk itu hanya tersentak sesaat sebelum melanjutkan serangannya.
Namun, Sobor dan makhluk mutasi, bukan satu-satunya ancaman. Dari sisi kiri, salah satu pimpinan regu Ruvan, seorang pria besar dengan aksesories tanduk kecil di dahinya, melompat ke depan. Dengan kecepatan luar biasa, ia menghancurkan salah satu perangkat pelindung milik prajurit Kane dengan sebuah pukulan keras.
"Kalian pikir senjata itu akan menyelamatkan kalian?!" teriaknya sambil melompat ke arah Valen. Sebelum laser itu bisa ditembakkan, pria bertanduk itu memukul senjata Valen hingga terlepas. Namun Valen membalasnya dengan tendangan keras ke arah perut pimpinan regu tersebut.
Sambil menghindari serangan lainnya, Valen mengambil kembali senjatanya yang terlempar dengan cepat. Sementara itu, di sisi kanan, pimpinan regu lainnya, menyerang dengan menyelinap di antara pepohonan dengan gerakan lincah, sambil mengerahkan pasukannya untuk terus menembakkan panah, sementara ia sendiri melancarkan serangan dengan bilah pisau pendek yang mematikan.
"Kalian semua akan mati di tanganku." Katanya sambil menyabetkan senjatanya ke arah Kane.
Kane menangkis serangannya sengan senjata di tangannya, lalu dia melakukan tendangan berputar dan tepat mengenai pemimpin regu dari suku Monrest tersebut.
"Lepaskan bom fragmen!" perintah Kane dengan cepat saat melihat anggotanya kewalahan diserang makhluk mutasi yang bergerak sangat cepat dan ganas sementara yang lainnya di serang salah satu pimpinan lawan.
Salah satu prajurit mengeluarkan bom kecil dari kantongnya dan melemparkannya ke arah Sobor. Ledakan besar terjadi, menghantam tubuh makhluk itu dan melemparkannya ke belakang. Sobor meraung, lendir hijau mengalir dari luka besar di dadanya, tetapi ia tetap berdiri.
Prajurit Kane yang lainnya ikut melemparkan bom ke arah para musuh. Ledakan terjadi di beberapa tempat dan melukai banyak anggota suku Monrest. Banyak yang tewas terkena ledakan dan bagian tubuh mereka berceceran dimana-mana.
"Sihir apa ini?!" teriak salah satu prajurit Ruvan, ketakutan melihat bom yang menghancurkan pasukan mereka.
"Berkumpul! Buat formasi pelindung" Melihat pasukan musuh yang kaget, Kane melihat kesempatan dan segera memanfaatkan momentum. Mereka mengaktifkan perisai pelindung dan saling berdekatan sehingga perisai pelindung dapat melindungi mereka semua. "Kael, Darius, tembak makhluk itu! Lyra, Seraphina, lemparkan bom fragmen. Valen, lindungi mereka! Freya, tolong Garin." instruksi Kane dengan cepat kepada seluruh anggotanya yang segera dijalankan.
Mereka sudah terbiasa mengikuti instruksi Kane di segala situasi dan dapat bekerja sama dengan baik. Kael, Darius langsung fokus menembak makhluk mutasi satu persatu, sementara Valen dan Kane menembaki setiap pasukan musuh yang mendekat. Panah-panah musuh yang menyerang, terpental oleh pelindung yang mereka satukan.
Lyra dan Seraphina ikut menyerang para makhluk dengan bom fragment dan sesekali melemparkan ke para pasukan musuh yang berkumpul.
Para makhluk mutasi dan pasukan Monrest mulai terlihat ragu untuk mendekat. Mereka melihat rekan-rekan mereka yang hancur terkena ledakan.
Mereka bergerak perlahan, bertahan dan menyerang musuh sambil berusaha bergerak menuju ke tempat Garin berada. Setelah dekat dengan Garin, Freya memeriksa kondisinya, namun usaha mereka menolong Garin sia-sia. Freya menunjukkan wajah sedih sekilas, Garin ternyata sudah tidak dapat ditolong, lalu Freya mulai ikut menembak para musuh dengan senjata lasernya dengan marah.
"Bunuh mereka!" Teriak salah satu pimpinan Monrest dengan marah. "Kepung mereka dari semua arah dan serang bersamaan!"
Kane kemudian ikut melepaskan bom fragment dan melemparkannya ke arah Sobor. Ledakan itu menghantam lagi tubuh makhluk mutasi raksasa tersebut, mengirimkan tubuhnya terlempar ke udara sebelum jatuh dengan suara menggelegar. Sobor tidak bergerak lagi.
"Makhluk terbesar sudah mati," gumam Kane, senyuman dingin menghiasi wajahnya.
Sisa makhluk mutasi lainnya menyerang dengan marah dan serangannya semakin ganas, tapi mereka juga dengan cepat dilumpuhkan oleh laser dan bom fragment yang dilemparkan tim Kane.
"Senjata apa yang mereka gunakan?" kata para pasukan Monrest.
"Kita tidak mampu menghadapinya." Kata yang lainnya.
"Kita tidak bisa mundur, Ruvan akan membunuh kita jika melarikan diri." Kata yang lainnya.
